Posted on April 14, 2010 | Category: Motivasi Tokoh
By: Internet Source
Kyai Haji Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur lahir di Jombang, Jawa
Timur, 7 September 1940 dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah.
Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. Wahid lahir dalam keluarga
yang sangat terhormat dalam komunitas Muslim Jawa Timur.
Kakek dari ayahnya adalah K.H. Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU),
sementara kakek dari pihak ibu, K.H. Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren
pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan. Ayah Gus Dur, K.H. Wahid Hasyim,
terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama tahun 1949. Ibunya,
Ny. Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang.
Kilasan Karir
Abdurrahman Wahid pernah berkarir sebagai jurnalis, menulis untuk majalah Tempo
dan koran Kompas. Artikelnya diterima dengan baik dan ia mulai mengembangkan
reputasi sebagai komentator sosial. Dengan popularitas itu, ia mendapatkan
banyak undangan untuk memberikan kuliah dan seminar, membuat dia harus
pulang-pergi antara Jakarta dan Jombang, tempat Wahid tinggal bersama
keluarganya.
Meskipun memiliki karier yang sukses pada saat itu, Gus Dur masih merasa sulit
hidup hanya dari satu sumber pencaharian dan ia bekerja untuk mendapatkan
pendapatan tambahan dengan menjual kacang dan mengantarkan es untuk digunakan
pada bisnis Es Lilin istrinya. Pada tahun 1974, Wahid mendapat pekerjaan
tambahan di Jombang sebagai guru di Pesantren Tambakberas dan segera
mengembangkan reputasi baik. Satu tahun kemudian, Wahid menambah pekerjaannya
dengan menjadi Guru Kitab Al Hikam.
Pada tahun 1977, Wahid bergabung ke Universitas Hasyim Asyari sebagai dekan
Fakultas Praktek dan Kepercayaan Islam. Sekali lagi, Wahid mengungguli
pekerjaannya dan Universitas ingin agar Wahid mengajar subyek tambahan seperti
pedagogi, syariat Islam dan misiologi. Namun, kelebihannya menyebabkan beberapa
ketidaksenangan dari sebagian kalangan universitas dan Wahid mendapat rintangan
untuk mengajar subyek-subyek tersebut. Sementara menanggung semua beban
tersebut, Wahid juga berpidato selama ramadhan di depan komunitas Muslim di
Jombang.
Abdurrahman Wahid mendapat pengalaman politik pertamanya pada pemilihan umum
legislatif 1982, saat berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP),
gabungan empat partai Islam termasuk NU.
Guru bangsa, reformis, cendekiawan, pemikir, dan pemimpin politik ini
menggantikan BJ Habibie sebagai Presiden RI setelah dipilih MPR hasil Pemilu
1999. Dia menjabat Presiden RI dari 20 Oktober 1999 hingga Sidang Istimewa MPR
2001
Penghargaan
1. Pada tahun 1993, Gus Dur menerima Ramon Magsaysay Award, sebuah penghargaan
yang cukup prestisius untuk kategori Community Leadership.
2. KH. Abdurrahman Wahid ditahbiskan sebagai “Bapak Tionghoa” oleh beberapa
tokoh Tionghoa Semarang di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, yang selama ini
dikenal sebagai kawasan Pecinan pada tanggal 10 Maret 2004.
3. Ia mendapat penghargaan dari Simon Wiethemthal Center, sebuah yayasan yang
bergerak di bidang penegakan Hak Asasi Manusia. Wahid mendapat penghargaan
tersebut karena menurut mereka ia merupakan salah satu tokoh yang peduli
terhadap persoalan HAM. Gus Dur memperoleh penghargaan dari Mebal Valor yang
berkantor di Los Angeles karena Wahid dinilai memiliki keberanian membela kaum
minoritas, salah satunya dalam membela umat beragama Konghucu di Indonesia dalam
memperoleh hak-haknya yang sempat terpasung selama era orde baru. Wahid juga
memperoleh penghargaan dari Universitas Temple. Namanya diabadikan sebagai nama
kelompok studi Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study.
4. Tasrif Award-AJI. Pada 11 Agustus 2006, Gadis Arivia dan Gus Dur mendapatkan
Tasrif Award-AJI sebagai Pejuang Kebebasan Pers 2006. Penghargaan ini diberikan
oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Gus Dur dan Gadis dinilai memiliki
semangat, visi, dan komitmen dalam memperjuangkan kebebasan berekpresi,
persamaan hak, semangat keberagaman, dan demokrasi di Indonesia. Gus Dur dan
Gadis dipilih oleh dewan juri yang terdiri dari budayawan Butet Kertaradjasa,
pemimpin redaksi The Jakarta Post Endy Bayuni, dan Ketua Komisi Nasional
Perempuan Chandra Kirana. Mereka berhasil menyisihkan 23 kandidat lain.
Penghargaan Tasrif Award bagi Gus Dur menuai protes dari para wartawan yang
hadir dalam acara jumpa pers itu. Seorang wartawan mengatakan bahwa hanya karena
upaya Gus Dur menentang RUU Anti Pornoaksi dan Pornografi, ia menerima
penghargaan tersebut. Sementara wartawan lain seperti Ati Nurbaiti, mantan Ketua
Umum AJI Indonesia dan wartawan The Jakarta Post membantah dan mempertanyakan
hubungan perjuangan Wahid menentang RUU APP dengan kebebasan pers.
Sumber: http://www.antaranews.com; http://id.wikipedia.org
» Filed Under Motivasi Tokoh