<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Motivasi Harian Blog</title>
	<atom:link href="http://blog.motivasiharian.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.motivasiharian.com</link>
	<description>Memberikan inspirasi setiap hari</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Apr 2010 13:42:29 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kisah 4 Lilin</title>
		<link>http://blog.motivasiharian.com/?p=205</link>
		<comments>http://blog.motivasiharian.com/?p=205#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 13:36:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi Pengembangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.motivasiharian.com/?p=205</guid>
		<description><![CDATA[
By: Internet Source
Ada 4 lilin yang menyala, Sedikit demi sedikit habis meleleh.
Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka
Yang pertama berkata: “Aku adalah Damai.” “Namun manusia tak mampu menjagaku: maka lebih baik aku mematikan diriku saja!” Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.
Yang kedua berkata: “Aku adalah Iman.” “Sayang aku tak berguna lagi.” “Manusia tak mau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://blog.motivasiharian.com/wp-content/uploads/2010/04/lilin-mati1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-208" title="lilin-mati" src="http://blog.motivasiharian.com/wp-content/uploads/2010/04/lilin-mati1-300x216.jpg" alt="" width="300" height="216" /></a></p>
<p>By: Internet Source</p>
<p>Ada 4 lilin yang menyala, Sedikit demi sedikit habis meleleh.</p>
<p>Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka</p>
<p>Yang pertama berkata: “Aku adalah Damai.” “Namun manusia tak mampu menjagaku: maka lebih baik aku mematikan diriku saja!” Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.</p>
<p>Yang kedua berkata: “Aku adalah Iman.” “Sayang aku tak berguna lagi.” “Manusia tak mau mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.” Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.</p>
<p>Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara: “Aku adalah Cinta.” “Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala.” “Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna.” “Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.” Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga.</p>
<p>Tanpa terduga…</p>
<p>Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam. Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: “Ekh apa yang terjadi?? Kalian harus tetap menyala, Aku takut akan kegelapan!”</p>
<p>Lalu ia mengangis tersedu-sedu.</p>
<p>Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata:</p>
<p>Jangan takut, Janganlah menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya:</p>
<p>“Akulah HARAPAN.”</p>
<p>Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin lainnya.</p>
<p>Sumber: http://www.emotivasi.com/</p>
<p>Gambar: www.densuryana.wordpress.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.motivasiharian.com/?feed=rss2&amp;p=205</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rufi Si Rusa: Bertanya Tentang Umur Kehidupan</title>
		<link>http://blog.motivasiharian.com/?p=201</link>
		<comments>http://blog.motivasiharian.com/?p=201#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 11:03:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi Pengembangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.motivasiharian.com/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[by: Internet Source
Rufi Rusa melangkahkan keempat kakinya dengan santai menyusuri pinggiran danau yang berair jernih dan banyak ikannya itu. Pandangannya terarah pada seekor kupu-kupu bersayap biru dengan garis-garis kemilau keemasan yang sedang terbang rendah di atas air. Jelas bukan sekali dalam hidupnya ia menemui kupu-kupu di sekitar gua tempat ia tinggal beserta kelompok rusa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>by: Internet Source</p>
<p>Rufi Rusa melangkahkan keempat kakinya dengan santai menyusuri pinggiran danau yang berair jernih dan banyak ikannya itu. Pandangannya terarah pada seekor kupu-kupu bersayap biru dengan garis-garis kemilau keemasan yang sedang terbang rendah di atas air. Jelas bukan sekali dalam hidupnya ia menemui kupu-kupu di sekitar gua tempat ia tinggal beserta kelompok rusa yang lain itu, namun entah kenapa, ia tidak pernah jemu mengagumi keanggunannya.</p>
<p>“Sedang mengamati kupu-kupu lagi, Rufi?”</p>
<p>Rufi menoleh ke belakang. Tampak Kakek Tore Rusa berjalan menghampirinya. Kakek Tore adalah rusa tua yang mengasuhnya sejak kecil, sejak ia ditinggal pergi oleh kedua rusa tuanya. Baginya, kakek Tore adalah sosok ayah sekaligus ibu yang selalu menjaganya.</p>
<p>“Iya, kek”, jawab Rufi. Ia geser sedikit tubuhnya ke kanan, memberi ruang bagi Kakek Tore untuk berdiri di sampingnya.</p>
<p>Kakek Tore menghentikan langkahnya. Ia berdiri sekitar 50cm di sebelah kiri Rufi. Kepalanya ia tengadahkan, menatap arah kupu-kupu biru yang tadi diperhatikan si Rufi. Kupu-kupu tadi sekarang sedang bercengkrama di udara dengan seekor burung gereja.</p>
<p>“Tahukah kamu berapa lama kupu-kupu itu bisa hidup Rufi?”</p>
<p>Rufi sedikit kaget karena kakek Tore tiba-tiba mengajukan pertanyaan kepadanya.</p>
<p>“Tiga tahun?”, tebak Rufi. Asal.</p>
<p>Kakek Tore menggeleng.</p>
<p>“Kebanyakan kupu-kupu hanya bisa bertahan hidup selama 2 hingga 14 hari.”</p>
<p>Kali ini Rufi benar-benar kaget. “Sungguh?”, ujarnya.</p>
<p>“Ya”, jelas sang kakek, “walaupun tidak semua. Ada beberapa spesies yang bisa hidup selama beberapa minggu atau berbulan-bulan. Namun secara keseluruhan ya itu tadi, umur mereka pendek”.</p>
<p>Rufi terdiam. Ia tidak menyangka binatang seindah dan seanggun kupu-kupu biru tadi hanya bisa menikmati dunia dalam waktu yang tidak lama. Ia tidak bisa membayangkan, apa jadinya jika ia ditakdirkan memiliki siklus hidup yang pendek seperti mereka.</p>
<p>Seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan Rufi, kakek Tore sengaja berdiam diri. Membiarkan Rufi larut dalam pikiran dan bayangannya.</p>
<p><strong>Seperti halnya Rufi, mungkin sekarang kita perlu mulai bertanya kepada diri kita sendiri tentang apa yang telah kita lakukan di masa kehidupan yang telah kita jalani.</strong></p>
<p>Sumber: http://dongengmotivasi.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.motivasiharian.com/?feed=rss2&amp;p=201</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelajaran hidup di Stasiun Jatinegara</title>
		<link>http://blog.motivasiharian.com/?p=193</link>
		<comments>http://blog.motivasiharian.com/?p=193#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Apr 2010 06:30:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi Sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.motivasiharian.com/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[
By: Internet Source
&#8220;Apa yang kita pikirkan ketika kita sedang menyisakan makanan?&#8221; ~Motivasi Harian~
Ketika pulang tugas audit dari surabaya Kereta Argo angrek yang saya tumpangi dari Stasiun Pasar turi surabaya perlahan-lahan memasuki stasiun Jatinegara. Para penumpang yang akan turun di Jatinegara saya lihat sudah bersiap-siap di depan pintu, karena sudah di jemput oleh keluarga. suasana jatinegara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://blog.motivasiharian.com/wp-content/uploads/2010/04/Waste-Food.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-194" title="Waste Food" src="http://blog.motivasiharian.com/wp-content/uploads/2010/04/Waste-Food-300x205.jpg" alt="" width="300" height="205" /></a></p>
<p>By: Internet Source</p>
<p>&#8220;Apa yang kita pikirkan ketika kita sedang menyisakan makanan?&#8221; ~Motivasi Harian~</p>
<p>Ketika pulang tugas audit dari surabaya Kereta Argo angrek yang saya tumpangi dari Stasiun Pasar turi surabaya perlahan-lahan memasuki stasiun Jatinegara. Para penumpang yang akan turun di Jatinegara saya lihat sudah bersiap-siap di depan pintu, karena sudah di jemput oleh keluarga. suasana jatinegara penuh sesak seperti biasa.</p>
<p>Sementara itu, dari jendela, saya lihat beberapa orang porter/buruh angkut berlomba lebih dulu masuk ke kereta yang masih melaju. Mereka berpacu dengan kereta, persis dengan kehidupan mereka yang terus berpacu dengan tekanan kehidupan kota Jakarta. Saat kereta benar-benar berhenti, kesibukan penumpang yang turun dan porter yang berebut menawarkan jasa kian kental terasa. Sementara di luar kereta saya lihat kesibukan kaum urban yang akan menggunakan kereta. Mereka kebanyakan berdiri,karena fasilitas tempat duduk kurang memadai. Sebuah lagu lama PT. KAI yang selalu dan selalu diputar dengan setia.</p>
<p>Tiba-tiba terdengar suara anak kecil membuyarkan keasyikan saya mengamati perilaku orang-orang di Jatinegara. Saya lihat seorang bocah berumur sekitar 10 tahun berdiri disamping saya. Kondisi fisiknya menggambarkan tekanan kehidupan yang berat baginya.</p>
<p>Kulitnya hitam dekil dengan baju kumal dan robek-robek disana-sini. Tubuhnya kurus kering tanda kurang gizi. “Ya?” Tanya saya kepada anak itu karena saya tadi konsentrasi saya melihat orang-orang di luar kereta. “Maaf, apakah air minum itu sudah tidak bapak butuhkan ?” katanya dengan penuh sopan sambil jarinya menunjuk air minum di atas tempat makanan dan minum samping jendela. Pandangan saya segera mengikuti arah telunjuk si bocah. Oh, air minum dalam kemasan gelas dari katering kereta yang tidak saya minum. Saya bahkan sudah tidak peduli sama sekali dengan air itu. Semalam saya hanya minta air minum dalam kemasan gelas untuk jaga-jaga dan menolak nasi yang diberikan oleh pramugara. Perut saya sudah cukup terisi dengan makan di rumah.</p>
<p>“Tidak. Mau ? Nih…” kata saya sambil memberikan air minum kemasan gelas kepada bocah itu. Diterimanya air itu dengan senyum simpul. Senyum yang tulus.</p>
<p>Beberapa menit kemudian, saya lihat dari balik jendela kereta, bocah tadi berjalan beririringan dengan 3 orang temannya. Masing-masing membawa tas kresek di tangannya. Ke empat anak itu kemudian duduk melingkar dilantai emplasemen. Mereka duduk begitu saja. Mereka tidak repot-repot membersihkan lantai yang terlihat kotor. Masing- masing kemudian mengeluarkan isi tas kresek masing-masing.</p>
<p><strong>Setelah saya perhatikan, rupanya isinya adalah “harta karun” yang mereka temukan di atas kereta. Saya lihat ada roti yang tinggal separoh, jeruk medan, juga separuh; sisa nasi catering kereta, dan air minum dalam kemasan gelas !</strong></p>
<p>Selanjutnya dengan rukun mereka saling berbagi “harta karun” temuan mereka dari kereta. Saya lihat bocah paling besar menciumi nasi bekas catering kereta untuk memastikan apakah sudah basi atau belum. Tanpa menyentuh sisa makanan, kotak nasi itu kemudian disodorkan pada temannya. Oleh temannya, nasi sisa tersebut juga dibaui. Kemudian, dia tertawa dengan penuh gembira sambil mengangkat tinggi-tinggi sepotong paha ayam goreng. Saya lihat, paha ayam goreng itu sudah tidak utuh. Nampak jelas bekas gigitan seseorang.</p>
<p>Tapi si bocah tidak peduli, dengan lahap paha ayam itu dimakannya. Demikian juga makanan sisa lainnya. Mereka makan dengan penuh lahap. Sungguh, sebuah “pesta” yang luar biasa. Pesta kemudian diakhiri dengan berbagi air minum dalam kemasan gelas !</p>
<p>Menyaksikan itu semua, saya jadi tertegun. Saya lihat sendiri persis di depan mata, potret anak-anak kurang beruntung yang mencoba bertahan dari kerasnya kehidupan. Nampaknya hidup mereka adalah apa yang mereka peroleh hari itu. Hidup adalah hari ini. Esok adalah mimpi dan misteri.</p>
<p>Cita-cita ?<br />
Masa Depan ? Lebih absurd lagi.</p>
<p>Sumber: http://rizkiekaputra.blogspot.com</p>
<p>Foto: www.telepk.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.motivasiharian.com/?feed=rss2&amp;p=193</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KH. Abdurrahman Wahid: Mengenang 100 Hari Gus Dur</title>
		<link>http://blog.motivasiharian.com/?p=169</link>
		<comments>http://blog.motivasiharian.com/?p=169#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Apr 2010 05:56:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.motivasiharian.com/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[
By: Internet Source
Kyai Haji Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur lahir di Jombang, Jawa
Timur, 7 September 1940 dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah.
Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. Wahid lahir dalam keluarga
yang sangat terhormat dalam komunitas Muslim Jawa Timur.
Kakek dari ayahnya adalah K.H. Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU),
sementara kakek dari pihak ibu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://blog.motivasiharian.com/wp-content/uploads/2010/04/Gus-Dur-wiwitfathur.wordpress.com_.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-170" title="Gus Dur (wiwitfathur.wordpress.com)" src="http://blog.motivasiharian.com/wp-content/uploads/2010/04/Gus-Dur-wiwitfathur.wordpress.com_-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
<p>By: Internet Source</p>
<p>Kyai Haji Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur lahir di Jombang, Jawa<br />
Timur, 7 September 1940 dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah.<br />
Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. Wahid lahir dalam keluarga<br />
yang sangat terhormat dalam komunitas Muslim Jawa Timur.</p>
<p>Kakek dari ayahnya adalah K.H. Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU),<br />
sementara kakek dari pihak ibu, K.H. Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren<br />
pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan. Ayah Gus Dur, K.H. Wahid Hasyim,<br />
terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama tahun 1949. Ibunya,<br />
Ny. Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang.<br />
Kilasan Karir</p>
<p>Abdurrahman Wahid pernah berkarir sebagai jurnalis, menulis untuk majalah Tempo<br />
dan koran Kompas. Artikelnya diterima dengan baik dan ia mulai mengembangkan<br />
reputasi sebagai komentator sosial. Dengan popularitas itu, ia mendapatkan<br />
banyak undangan untuk memberikan kuliah dan seminar, membuat dia harus<br />
pulang-pergi antara Jakarta dan Jombang, tempat Wahid tinggal bersama<br />
keluarganya.</p>
<p>Meskipun memiliki karier yang sukses pada saat itu, Gus Dur masih merasa sulit<br />
hidup hanya dari satu sumber pencaharian dan ia bekerja untuk mendapatkan<br />
pendapatan tambahan dengan menjual kacang dan mengantarkan es untuk digunakan<br />
pada bisnis Es Lilin istrinya. Pada tahun 1974, Wahid mendapat pekerjaan<br />
tambahan di Jombang sebagai guru di Pesantren Tambakberas dan segera<br />
mengembangkan reputasi baik. Satu tahun kemudian, Wahid menambah pekerjaannya<br />
dengan menjadi Guru Kitab Al Hikam.</p>
<p>Pada tahun 1977, Wahid bergabung ke Universitas Hasyim Asyari sebagai dekan<br />
Fakultas Praktek dan Kepercayaan Islam. Sekali lagi, Wahid mengungguli<br />
pekerjaannya dan Universitas ingin agar Wahid mengajar subyek tambahan seperti<br />
pedagogi, syariat Islam dan misiologi. Namun, kelebihannya menyebabkan beberapa<br />
ketidaksenangan dari sebagian kalangan universitas dan Wahid mendapat rintangan<br />
untuk mengajar subyek-subyek tersebut. Sementara menanggung semua beban<br />
tersebut, Wahid juga berpidato selama ramadhan di depan komunitas Muslim di<br />
Jombang.</p>
<p>Abdurrahman Wahid mendapat pengalaman politik pertamanya pada pemilihan umum<br />
legislatif 1982, saat berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP),<br />
gabungan empat partai Islam termasuk NU.<br />
Guru bangsa, reformis, cendekiawan, pemikir, dan pemimpin politik ini<br />
menggantikan BJ Habibie sebagai Presiden RI setelah dipilih MPR hasil Pemilu<br />
1999. Dia menjabat Presiden RI dari 20 Oktober 1999 hingga Sidang Istimewa MPR<br />
2001</p>
<p>Penghargaan</p>
<p>1. Pada tahun 1993, Gus Dur menerima Ramon Magsaysay Award, sebuah penghargaan<br />
yang cukup prestisius untuk kategori Community Leadership.<br />
2. KH. Abdurrahman Wahid ditahbiskan sebagai &#8220;Bapak Tionghoa&#8221; oleh beberapa<br />
tokoh Tionghoa Semarang di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, yang selama ini<br />
dikenal sebagai kawasan Pecinan pada tanggal 10 Maret 2004.</p>
<p>3. Ia mendapat penghargaan dari Simon Wiethemthal Center, sebuah yayasan yang<br />
bergerak di bidang penegakan Hak Asasi Manusia. Wahid mendapat penghargaan<br />
tersebut karena menurut mereka ia merupakan salah satu tokoh yang peduli<br />
terhadap persoalan HAM. Gus Dur memperoleh penghargaan dari Mebal Valor yang<br />
berkantor di Los Angeles karena Wahid dinilai memiliki keberanian membela kaum<br />
minoritas, salah satunya dalam membela umat beragama Konghucu di Indonesia dalam<br />
memperoleh hak-haknya yang sempat terpasung selama era orde baru. Wahid juga<br />
memperoleh penghargaan dari Universitas Temple. Namanya diabadikan sebagai nama<br />
kelompok studi Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study.</p>
<p>4. Tasrif Award-AJI. Pada 11 Agustus 2006, Gadis Arivia dan Gus Dur mendapatkan<br />
Tasrif Award-AJI sebagai Pejuang Kebebasan Pers 2006. Penghargaan ini diberikan<br />
oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Gus Dur dan Gadis dinilai memiliki<br />
semangat, visi, dan komitmen dalam memperjuangkan kebebasan berekpresi,<br />
persamaan hak, semangat keberagaman, dan demokrasi di Indonesia. Gus Dur dan<br />
Gadis dipilih oleh dewan juri yang terdiri dari budayawan Butet Kertaradjasa,<br />
pemimpin redaksi The Jakarta Post Endy Bayuni, dan Ketua Komisi Nasional<br />
Perempuan Chandra Kirana. Mereka berhasil menyisihkan 23 kandidat lain.<br />
Penghargaan Tasrif Award bagi Gus Dur menuai protes dari para wartawan yang<br />
hadir dalam acara jumpa pers itu. Seorang wartawan mengatakan bahwa hanya karena<br />
upaya Gus Dur menentang RUU Anti Pornoaksi dan Pornografi, ia menerima<br />
penghargaan tersebut. Sementara wartawan lain seperti Ati Nurbaiti, mantan Ketua<br />
Umum AJI Indonesia dan wartawan The Jakarta Post membantah dan mempertanyakan<br />
hubungan perjuangan Wahid menentang RUU APP dengan kebebasan pers.</p>
<p>Sumber: http://www.antaranews.com; http://id.wikipedia.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.motivasiharian.com/?feed=rss2&amp;p=169</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>7 Keajaiban Dunia</title>
		<link>http://blog.motivasiharian.com/?p=161</link>
		<comments>http://blog.motivasiharian.com/?p=161#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 00:19:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi Pengembangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://motivasiharian.com/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[By: Internet Source
Sekelompok siswa kelas geografi sedang mempelajari “tujuh keajaiban dunia”. Pada awal dari pelajaran, mereka diminta untuk membuat daftar apa yang mereka pikir merupakan “tujuh keajaiban dunia” saat ini. Walaupun ada beberapa ketidak sesuaian, sebagian besar daftar berisi:

Piramida
Taj Mahal
Tembok Besar Cina
Menara Pisa
Kuil Angkor
Menara Eiffel
Kuil Parthenon

Ketika mengumpulkan daftar pilihan, sang guru memperhatikan seorang pelajar, seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>By: Internet Source</p>
<p>Sekelompok siswa kelas geografi sedang mempelajari “tujuh keajaiban dunia”. Pada awal dari pelajaran, mereka diminta untuk membuat daftar apa yang mereka pikir merupakan “tujuh keajaiban dunia” saat ini. Walaupun ada beberapa ketidak sesuaian, sebagian besar daftar berisi:</p>
<ol>
<li>Piramida</li>
<li>Taj Mahal</li>
<li>Tembok Besar Cina</li>
<li>Menara Pisa</li>
<li>Kuil Angkor</li>
<li>Menara Eiffel</li>
<li>Kuil Parthenon</li>
</ol>
<p>Ketika mengumpulkan daftar pilihan, sang guru memperhatikan seorang pelajar, seorang gadis yang pendiam, yang belum mengumpulkan kertas kerjanya. Jadi sang guru bertanya kepadanya apakah dia mempunyai kesulitan dengan daftarnya.</p>
<p>Gadis pendiam itu menjawab, “Ya, sedikit. Saya tidak bisa memilih karena sangat banyaknya.”</p>
<p>Sang guru berkata, “Baik, katakana pada kami apa yang kamu miliki, dan mungkin kami bisa membantu memilihnya.”</p>
<p>Gadis itu ragu sejenak, kemudian membaca, “Saya rasa tujuh keajaiban dunia adalah,</p>
<ol>
<li>Bisa melihat</li>
<li>Bisa mendengar</li>
<li>Bisa menyentuh</li>
<li>Bisa menyayangi</li>
</ol>
<p>Dia ragu lagi sebentar, dan kemudian melanjutkan,</p>
<ol>
<li>Bisa merasakan</li>
<li>Bisa tertawa</li>
<li>Dan, bisa mencintai</li>
</ol>
<p>Hmmmm&#8230; Alangkah mudahnya bagi kita untuk melihat pada eksploitasi manusia dan menyebutnya “keajaiban”. Sementara kita lihat lagi semua yang telah Tuhan berikan untuk kita, kita menyebutnya sebagai “biasa”.</p>
<p>Hari itu mereka diingatkan kembali segala hal yang betul-betul ajaib dalam kehidupan mereka.</p>
<p>Diambil dari: http://inspirasi2.wordpress.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.motivasiharian.com/?feed=rss2&amp;p=161</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berpikir Untuk Menang</title>
		<link>http://blog.motivasiharian.com/?p=158</link>
		<comments>http://blog.motivasiharian.com/?p=158#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 02:06:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi Pengembangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://motivasiharian.com/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[By: Internet Source
The Victor
Poet:  C.W. Longenecker 
If you think you are beaten, you are.
If you think you dare not,  you don’t
If you like to win but think you can’t,
It’s almost a cinch you won’t.
If you think you’ll lose, you’re lost.
For out in the world we find
Success begins with a fellow’s will
It’s all in [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>By: Internet Source</p>
<p><span style="font-family: verdana,arial,sans-serif;"><strong>The Victor</strong><br />
Poet:  C.W. Longenecker </span></p>
<p><span style="font-family: verdana,arial,sans-serif;">If you think you are beaten, you are.<br />
If you think you dare not,  you don’t<br />
If you like to win but think you can’t,<br />
It’s almost a cinch you won’t.</span></p>
<p>If you think you’ll lose, you’re lost.<br />
For out in the world we find<br />
Success begins with a fellow’s will<br />
It’s all in the state of mind.</p>
<p>If you think you are outclassed, you are.<br />
You’ve got to think high to rise.<br />
You’ve got to be sure of yourself before<br />
You can ever win the prize.</p>
<p>Life’s battles don’t always go<br />
To the stronger or faster man.<br />
But sooner or later, the man who wins<br />
Is the man who thinks he can.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.motivasiharian.com/?feed=rss2&amp;p=158</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wortel, Telur, dan Kopi</title>
		<link>http://blog.motivasiharian.com/?p=153</link>
		<comments>http://blog.motivasiharian.com/?p=153#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Feb 2010 00:52:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi Pengembangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://motivasiharian.com/?p=153</guid>
		<description><![CDATA[By: Internet Source
Seorang anak perempuan mengeluh pada sang ayah tentang kehidupannya yang sangat berat. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan dan bermaksud untuk menyerah. Ia merasa capai untuk terus berjuang dan berjuang. Bila satu persoalan telah teratasi, maka persoalan yang lain muncul. Lalu, ayahnya yang seorang koki membawanya ke dapur. Ia mengisi tiga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>By: Internet Source</p>
<p>Seorang anak perempuan mengeluh pada sang ayah tentang kehidupannya yang sangat berat. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan dan bermaksud untuk menyerah. Ia merasa capai untuk terus berjuang dan berjuang. Bila satu persoalan telah teratasi, maka persoalan yang lain muncul. Lalu, ayahnya yang seorang koki membawanya ke dapur. Ia mengisi tiga panci dengan air kemudian menaruh ketiganya di atas api. Segera air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama dimasukkannya beberapa wortel Ke dalam panci kedua dimasukkannya beberapa butir telur. Dan, pada panci terakhir dimasukkannya biji-biji kopi. Lalu dibiarkannya ketiga panci itu beberapa saat tanpa berkata sepatah kata.</p>
<p>Sang anak perempuan mengatupkan mulutnya dan menunggu dengan tidak sabar. Ia keheranan melihat apa yang dikerjakan ayahnya. Setelah sekitar dua puluh menit, ayahnya mematikan kompor. Diambilnya wortel-wortel dan diletakkannya dalam mangkok. Diambilnya pula telur-telur dan ditaruhnya di dalam mangkok. Kemudian dituangkannya juga kopi ke dalam cangkir. Segera sesudah itu ia berbalik kepada putrinya, dan bertanya: “Sayangku, apa yang kaulihat?” “Wortel, telur, dan kopi,” jawab anaknya.</p>
<p>Sang ayah membawa anaknya mendekat dan memintanya meraba wortel. Ia melakukannya dan mendapati wortel-wortel itu terasa lembut. Kemudian sang ayah meminta anaknya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah mengupas kulitnya si anak mendapatkan telur matang yang keras. Yang terakhir sang ayah meminta anaknya menghirup kopi. Ia tersenyum saat mencium aroma kopi yang harum. Dengan rendah hati ia bertanya “Apa artinya, bapa?” Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda telah merasakan penderitaan yang sama, yakni air yang mendidih, tetapi reaksi masing-masing berbeda. Wortel yang kuat, keras, dan tegar, ternyata setelah dimasak dalam air mendidih menjadi lembut dan lemah. Telur yang rapuh, hanya memiliki kulit luar tipis yang melindungi cairan di dalamnya. Namun setelah dimasak dalam air mendidih, cairan yang di dalam itu menjadi keras. Sedangkan biji-biji kopi sangat unik. Setelah dimasak dalam air mendidih, kopi itu mengubah air tawar menjadi enak.</p>
<p>“Yang mana engkau, anakku?” sang ayah bertanya.</p>
<p>“Ketika penderitaan mengetuk pintu hidupmu, bagaimana reaksimu? Apakah engkau wortel, telur, atau kopi?”</p>
<p>Bagaimana dengan ANDA, sobat?</p>
<p>Apakah Anda seperti sebuah wortel, yang kelihatan keras, tetapi saat berhadapan dengan kepedihan dan penderitaan menjadi lembek, lemah, dan kehilangan kekuatan?</p>
<p>Apakah Anda seperti telur, yang mulanya berhati penurut? Apakah engkau tadinya berjiwa lembut, tetapi setelah terjadi kematian, perpecahan, perceraian, atau pemecatan, Anda menjadi keras dan kepala batu? Kulit luar Anda memang tetap sama, tetapi apakah Anda menjadi pahit, tegar hati,serta kepala batu?</p>
<p>Atau apakah Anda seperti biji kopi? Kopi mengubah air panas, hal yang membawa kepedihan itu, bahkan pada saat puncaknya ketika mencapai 100 C. Ketika air menjadi panas, rasanya justru menjadi lebih enak. Apabila Anda seperti biji kopi, maka ketika segala hal seolah-olah dalam keadaan yang terburuk sekalipun Anda dapat menjadi lebih baik dan juga membuat suasana di sekitar Anda menjadi lebih baik.</p>
<p>Bagaimana cara Anda menghadapi penderitaan? Apakah seperti wortel, telur, atau biji kopi?</p>
<p>Diambil dari: www.dongeng.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.motivasiharian.com/?feed=rss2&amp;p=153</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Pemuda Yang Sabar</title>
		<link>http://blog.motivasiharian.com/?p=151</link>
		<comments>http://blog.motivasiharian.com/?p=151#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 02:15:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi Pengembangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://motivasiharian.com/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[By: Internet Source
Alkisah dijaman tiongkok kuno, hiduplah seorang pemuda miskin bersama kuda hitamnya disebuah desa terpelosok. Dari penampilan luarnya, tidak ada sesuatu yang menonjol pada diri pemuda tersebut, dia terlihat serupa dengan pemuda-pemuda desa yang lain. Hanya sifat sabar nya lah yang membedakan dia dengan penghuni desa yang lain.  Namun orang-orang desa memiliki pandangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>By: Internet Source</p>
<p>Alkisah dijaman tiongkok kuno, hiduplah seorang pemuda miskin bersama kuda hitamnya disebuah desa terpelosok. Dari penampilan luarnya, tidak ada sesuatu yang menonjol pada diri pemuda tersebut, dia terlihat serupa dengan pemuda-pemuda desa yang lain. Hanya sifat sabar nya lah yang membedakan dia dengan penghuni desa yang lain.  Namun orang-orang desa memiliki pandangan berbeda mengenai sifat sabarnya, sehingga mereka memanggilnya si bodoh.</p>
<p>Mendapatkan julukan negatif terhadap dirinya, sang pemuda hanya tersenyum, dalam hatinya selalu terpatri nasehat ayahnya, SABAR SATU KALI,HILANG SATU MASALAH.  Kabar mengenai pemuda tersebut akhirnya sampai juga di telinga raja yang berkuasa pada saat itu. Tertarik untuk mengetahui kesabaran sang pemuda, akhirnya sang raja pun ingin menguji sang pemuda.</p>
<p>Raja pun memanggil prajurit terhandalnya untuk merampok rumah sang pemuda. Raja ingin mengetahui, bagaimanakah reaksi sang pemuda, apabila kuda hitam yang merupakan harta berharga sang pemuda dicuri.  Tibalah saat yang telah di rencanakan oleh sang raja, prajurit suruhannya pun bereaksi dengan cepat. Menunggu waktu disaat sang pemuda sedang tertidur lelap, sang prajurit suruhan pun membawa kuda hitam sang pemuda ke kekerajaan. Dan tak lupa, dia pun menempatkan seorang prajurit lainnya, yang menyamar sebagai petani, untuk memata-matai reaksi sang pemuda.</p>
<p>Pagi harinya, saat sang pemuda bangun dari tidurnya, bergegas dirinya ingin memberi makan sang kuda kesayangan, namun dia pun tidak menemukan kudanya, yang ada hanya tali kekang kuda yang putus terkena tebasan benda tajam. Namun dari wajah sang pemuda, tidak terlihat perasaan sedih ataupun marah. Yang ada hanyalah senyuman yang menghiasi bibirnya.  &#8220;Semoga si pencuri kuda, bisa mendapatkan manfaat dari kuda ku ini, sehingga bisa mengurangi masalah yang dihadapinya&#8221; katanya kemudian.  Mendapatkan kabar dari sang prajurit mata-mata mengenai reaksi sang pemuda, sang raja pun tergugah, dan memerintahkan prajuritnya untuk menjemput sang pemuda, menjadi penasehat kerajaan.</p>
<p>Kesabaran yang dimiliki oleh sang pemuda berakhir dengan kebahagian bagi dirinya. Orang-orang desa yang dulu memandangnya bodoh, sekarang menyesali sikap mereka.</p>
<p>Pembaca yang bijak,  Sabar adalah sikap yang sangat sulit kita lakukan belakangan ini. Sering kali sabar kita sama artikan dengan merendahkan diri kita sendiri. Namun coba bayangkan apabila seluruh penghuni dunia ini menyikapi kata sabar , tentu saja tidak akan ada perang diantara kita, tidak akan ada lagi pertumpahan darah atas dasar ego dan kemarahan, dan tentu saja tidak akan ada lagi kecelakaan-kecelakaan lalu lintas akibat ketidaksabaran itu sendiri. Maka dari itu, mari sebelum terlambat, kita belajar untuk bersabar mulai hari ini, mulai dari hal yang kecil, dan tentu saja sikap sabar yang kita kembangkan dapat menjadikan kita sebagai insan bijak bagi diri kita sendiri maupun orang lain ~</p>
<p>Referensi: http://www.andriewongso.com/awartikel-2808-Artikel_Anda-Pemuda_yang_Sabar</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.motivasiharian.com/?feed=rss2&amp;p=151</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ir. Ciputra: Ikon Properti Indonesia</title>
		<link>http://blog.motivasiharian.com/?p=148</link>
		<comments>http://blog.motivasiharian.com/?p=148#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 00:29:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://motivasiharian.com/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[By: Internet Source
Ciputra adalah sebuah nama besar dan perintis pengembang properti nasional, pengalaman hidup susah sejak kecil adalah pemicu kesuksesannya. Ciputra yang lahir di Parigi, Sulawesi Tengah 77 tahun lalu, harus merasakan kerasnya hidup sejak usia 12 tahun, tanpa ayah. Sang ayah ditangkap tentara pendudukan Jepang dan akhirnya meninggal di penjara.
Ir. Ciputra (lahir di Parigi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>By: Internet Source</p>
<p>Ciputra adalah sebuah nama besar dan perintis pengembang properti nasional, pengalaman hidup susah sejak kecil adalah pemicu kesuksesannya. Ciputra yang lahir di Parigi, Sulawesi Tengah 77 tahun lalu, harus merasakan kerasnya hidup sejak usia 12 tahun, tanpa ayah. Sang ayah ditangkap tentara pendudukan Jepang dan akhirnya meninggal di penjara.</p>
<p>Ir. Ciputra (lahir di Parigi, Sulawesi Tengah, 24 Agustus 1931; umur 77 tahun) adalah seorang insinyur dan pengusaha di Indonesia. Ciputra menghabiskan masa kecil hingga remajanya di sebuah desa terpencil di pojokan Sulawesi Utara. Begitu jauhnya sehingga desa itu sudah nyaris berada di Sulawesi Tengah. Jauh dari Manado, jauh pula dari Palu.</p>
<p>Sebagai bungsu dari 3 bersaudara, Ciputra kecil harus bergelut dengan berbagai pekerjaan untuk mencari uang membantu sang ibu yang berjualan kue. Ciputra yang mengaku sangat bandel dan nakal sejak kecil, juga harus berjalan kaki tanpa alas kaki sejauh 7 kilometer ke sekolah setiap hari. Kenakalan Ciputra terlihat dari sifatnya yang seenaknya sendiri. Saat disuruh belajar bahasa Belanda, Jepang atau China, dia malas. Dia hanya mau belajar bahasa yang dianggapnya akan berguna baginya, yaitu bahasa Indonesia. Akibatnya, saat usia 12 tahun dia masih di kelas 2 SD karena berkali-kali tinggal kelas.</p>
<p>Ketika tamat SMA, kira-kira saat dia berusia 17 tahun, dia meninggalkan desanya menuju Jawa, lambang kemajuan saat itu. Dia ingin memasuki perguruan tinggi di Jawa. Maka, masuklah dia ke ITB (Institut Teknologi Bandung). Keputusan Ciputra untuk merantau ke Jawa tersebut merupakan salah satu momentum terpenting dalam hidupnya yang pada akhirnya menjadikan Ciputra orang sukses. Keputusan Ciputra untuk merantau ketika tamat SMA merupakan keputusan yang tepat, karena pada usia tersebut muncul adanya keinginan untuk bebas yang disertai rasa tanggung jawab pada diri individu. Ciputra adalah perantau yang sempurna. Dia mendapatkan kebebasan, tapi juga memunculkan rasa tanggung jawab pada dirinya.</p>
<p>Pada tingkat IV, ia, bersama dua temannya, mendirikan usaha konsultan arsitektur bangunan &#8212; berkantor di sebuah garasi. Saat itu, ia sudah menikahi Dian Sumeler, yang dikenalnya ketika masih sekolah SMA di Manado. Setelah Ciputra meraih gelar insinyur, 1960, mereka pindah ke Jakarta, tepatnya di Kebayoran Baru. &#8221;Kami belum punya rumah. Kami berpindah-pindah dari losmen ke losmen,&#8221; tutur Nyonya Dian, ibu empat anak. Tetapi dari sinilah awal sukses Ciputra.</p>
<p>Pada tahun 1997 terjadilah krisis ekonomi. Krisis tersebut menimpa tiga group yang dipimpin Ciputra: Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group. Namun dengan prinsip hidup yang kuat Ciputra mampu melewati masa itu dengan baik. Ciputra selalu berprinsip bahwa jika kita bekerja keras dan berbuat dengan benar, Tuhan pasti buka jalan. Dan banyak mukjizat terjadi, seperti adanya kebijakan moneter dari pemerintah, diskon bunga dari beberapa bank sehingga ia mendapat kesempatan untuk merestrukturisasi utang-utangnya. Akhirnya ketiga group tersebut dapat bangkit kembali dan kini Group Ciputra telah mampu melakukan ekspansi usaha di dalam dan ke luar negeri.</p>
<p>Ciputra telah sukses melampaui semua orde; orde lama, orde baru, maupun orde reformasi. Dia sukses membawa perusahaan daerah maju, membawa perusahaan sesama koleganya maju, dan akhirnya juga membawa perusahaan keluarganya sendiri maju. Dia sukses menjadi contoh kehidupan sebagai seorang manusia. Memang, dia tidak menjadi konglomerat nomor satu atau nomor dua di Indonesia, tapi dia adalah yang TERBAIK di bidangnya: realestate.</p>
<p>Pada usianya yang ke-75, ketika akhirnya dia harus memikirkan pengabdian masyarakat apa yang akan ia kembangkan, dia memilih bidang pendidikan. Kemudian didirikanlah sekolah dan universitas Ciputra. Bukan sekolah biasa. Sekolah ini menitikberatkan pada enterpreneurship. Dengan sekolah kewirausahaan ini Ciputra ingin menyiapkan bangsa Indonesia menjadi bangsa pengusaha.</p>
<p>Referensi: http://jawaban.com/news/money/detail.php?id_news=070727121131; http://forum.vibizportal.com/showthread.php?t=3310; http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Ir%20Ciputra%20Pengusaha%20Sukses,%20Sebuah%20Inspirasi&amp;&amp;nomorurut_artikel=314</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.motivasiharian.com/?feed=rss2&amp;p=148</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selalu Ada Perempuan Hebat Di Samping Laki-Laki Hebat</title>
		<link>http://blog.motivasiharian.com/?p=145</link>
		<comments>http://blog.motivasiharian.com/?p=145#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jan 2010 21:53:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi Pengembangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://motivasiharian.com/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[By: Internet Source
Thomas Wheeler, CEO Massachusetts Mutual Life Insurance Company, dan istrinya sedang menyusuri jalan raya antarnegara bagian ketika menyadari bensin mobilnya nyaris habis. Wheeler segera keluar dari jalan raya bebas hambatan itu dan tak lama kemudian menemukan pompa bensin yang sudah bobrok dan hanya punya satu mesin pengisi bensin.
Setelah menyuruh satu-satunya petugas di situ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>By: Internet Source</p>
<p>Thomas Wheeler, CEO Massachusetts Mutual Life Insurance Company, dan istrinya sedang menyusuri jalan raya antarnegara bagian ketika menyadari bensin mobilnya nyaris habis. Wheeler segera keluar dari jalan raya bebas hambatan itu dan tak lama kemudian menemukan pompa bensin yang sudah bobrok dan hanya punya satu mesin pengisi bensin.</p>
<p>Setelah menyuruh satu-satunya petugas di situ untuk mengisi mobilnya dan mengecek oli, dia berjalan-jalan memutari pompa bensin itu untuk melemaskan kaki.</p>
<p>Ketika kembali ke mobil, dia melihat petugas itu sedang asyik mengobrol dengan istrinya. Obrolan mereka langsung berhenti ketika dia membayar si petugas. Tetapi ketika hendak masuk ke mobil, dia melihat petugas itu melambaikan tangan dan dia mendengar orang itu berkata, “Asyik sekali mengobrol denganmu.”</p>
<p>Setelah mereka meninggalkan pompa bensin itu, Wheeler bertanya kepada istrinya apakah dia kenal lelaki itu. Istrinya langsung mengiyakan. Mereka pernah satu sekolah di SMA dan pernah pacaran kira-kira setahun.<br />
“Astaga, untung kau ketemu aku,” Wheeler menyombong. “Kalau kau menikah dengannya, kau jadi istri petugas pompa bensin, bukan istri direktur utama.”<br />
“Sayangku,” jawab istrinya, <strong>“Kalau aku menikah dengannya, dia yang akan menjadi direktur utama dan kau yang akan menjadi petugas pompa bensin.”</strong></p>
<p>(The Best Of Bits &amp; Pieces, satu dari 71 Kisah dalam Buku Chicken Soup For The Couples Soul)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.motivasiharian.com/?feed=rss2&amp;p=145</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
